Kita
sering berdebat dan berargumentasi tentang nilai kesehatan dalam mi
instan. Kalau kita mau menghindari perdebatan, dan ingin langsung
menukik untuk menemukan mi apa yang paling bagus untuk kesehatan,
jawabnya adalah: soba.
Soba sebenarnya berarti buckwheat, sejenis gandum. Tetapi, mi yang
dibuat dari soba ini juga disebut soba. Di Jepang, penghasil soba adalah
Pulau Hokkaido. Soba yang baru saja dibuat disebut shin-soba (soba
baru), yang rasanya lebih manis dan lebih flavorful.
Di Jepang, soba adalah makanan yang sangat populer, dan dapat dijumpai
di kedai-kedai murah sekitar stasiun dan pasar. Tetapi, juga ada gerai
spesial soba, seperti misalnya yang pernah saya kunjungi di Nagano –
konon keluarga kerajaan datang setiap tahun untuk menyantap shin-soba di
gerai ini.
Soba sangat kaya protein, rutin, vitamin B1, B2, dan P. Biasanya, soba
disajikan dingin dengan kuah encer yang dibuat dengan katsuoboshi (ikan
cakalang atau bonito kering) dan sababushi (ikan mackerel kering), dan
sedikit kaeshi (kecap asin encer dicampur sedikit gula). Makanan
sederhana yang menyehatkan, baik dari segi porsi maupun kandungan
nutrisi.
Karena di Jepang sudah semakin kesulitan lahan, banyak pengusaha soba di
Jepang yang bertani di Tasmania (Australia) untuk membudidayakan
buckwheat khusus ini. Soba kemudian diproses menjadi bentuk kering, dan
diekspor kembali ke Jepang dan ke berbagai pasar dunia lain.
Soba aslinya berwarna abu-abu keruh karena memang tidak diberi zat
pewarna. Ada juga soba yang dibuat dengan teh hijau, sehingga warnanya
hijau. Di musim panas, soba sering disajikan dengan beberapa bungkah es
batu di atasnya, lalu ditaburi guntingan nori (rumput laut panggang).
Di Singapura, sejak beberapa tahun yang lalu ada sebuah gerai soba
waralaba yang populer: Shimbashi Soba. Asalnya, gerai ini memang populer
di dekat Stasiun Shimbashi, tidak jauh dari Ginza, Tokyo.
Di daftar menu-nya, Shimbashi Soba menawarkan banyak pilihan. Dengan
Sin$18.80 (sekitar Rp 115 ribu), kita sudah dapat lunch set termasuk
minuman. Pilihan porsi soba (dingin maupun panas) di kisaran harga
Sin$15.80 (sekitar Rp 100 ribu). Ada juga menu shokado yang lebih
mengenyangkan di kisaran Sin$25.80-29.80. Semua masakan dijamin tanpa
garam, tanpa pewarna/citarasa buatan.
Saya memesan soba bebek (yuzu kosho kamo seiro). Soba-nya disajikan
dingin, didamping semangkuk kuah panas berisi irisan daging bebek
confit, jamur tiram, jamur enoki, tahu, telur mentah, dan sayuran. Kaldu
bebeknya beraroma yuzu (Japanese lemon). Rasa kaldunya juga sangat
gurih, dengan citarasa yuzu yang membuatnya sangat segar. Daging
bebeknya lembut dengan bumbu yang menembus hingga serat-seratnya.
Celupkan segulung soba ke dalam kuah ini, lalu sluuuurrp .... mak nyuss!
Jangan dulu buru-buru berdiri. Pada akhir bersantap, pramusaji akan
datang kembali dengan cangkir minuman panas untuk disajikan secara
gratis. Minuman panas bening agak keruh ini disebut soba-yu, yaitu sisa
air yang dipakai untuk merebus soba. Soba-yu diyakini kaya akan nutrisi,
vitamin, dan mineral. Jangan dilewatkan!
Kapan ya Shimbashi Soba datang ke Jakarta? Pasti saya akan jadi pelanggan pertama.
sumber :detikfood

Tidak ada komentar:
Posting Komentar